Pendahuluan
Setiap suku di Indonesia memiliki tradisi pernikahan yang berbeda-beda. Suku Jawa memiliki tradisi pernikahan yang kaya akan keindahan dan makna simbolis. Pakaian pengantin adat Jawa memiliki tampilan yang unik dan elegan. Kombinasi motif dan warna yang dipilih mempunyai arti simbolis dalam pernikahan Jawa. Disini akan dijelaskan tentang pakaian pengantin adat Jawa, lengkap dengan gambar, tradisi, dan arti simbolisnya.
Sejarah Pakaian Pengantin Adat Jawa
Sebelum membahas lebih dalam tentang pakaian pengantin adat Jawa, kita perlu tahu sejarahnya. Sejak zaman Kerajaan Mataram pada abad ke-8 hingga abad ke-10, pakaian pengantin adat Jawa sudah terkenal keindahannya dan sinonim dengan kemakmuran serta kemuliaan.
Raja-raja Mataram saat itu membuat pakaian pengantin untuk putranya yang dilaksanakan dengan megah dan meriah. Pakaian tersebut terbuat dari bahan-bahan mewah dan dihiasi dengan berbagai hiasan memukau. Setiap detail pakaian tersebut sangat penting dan mempunyai arti simbolis dalam tradisi pernikahan Jawa. Seiring berjalannya waktu, pakaian pengantin adat Jawa terus mengalami perubahan dan perkembangan sesuai perkembangan zaman.
Jenis Pakaian Pengantin Adat Jawa
Berdasarkan daerahnya, pakaian pengantin adat Jawa memiliki beberapa jenis. Namun yang paling populer dan umum digunakan adalah:
1. Kebaya Encim

Kebaya encim adalah busana pengantin adat Jawa dari daerah Betawi. Kebaya ini berbeda dengan kebaya pengantin dari daerah lain yang lebih kental dengan warna serta menggunakan kain bermotif wayang dan batik sebagai bawahannya. Kebaya encim menggunakan kain katun polos, sulaman, serta kalung, dan kemban sebagai hiasannya.
2. Kebaya Rawa Belong

Kebaya Rawa Belong adalah busana pengantin adat Jawa dari daerah Jakarta. Kebaya ini sangat populer pada tahun 1970-an. Kebaya ini memiliki ciri khas yaitu kainnya berwarna putih atau pastel, brokat, dan dipadukan dengan kain batik. Tampilannya lebih modern daripada kebaya budaya lainnya.
3. Kebaya Rembang

Kebaya yang berasal dari Rembang ini memiliki tampilan yang klasik. Busana ini terdiri dari kain kebaya dengan jenis dan modelnya macam-macam dan kain batik yang dikombinasikan dengan perhiasan emas dan aksesoris seperti gelang, kalung, dan anting.
Arti Simbolis Pakaian Pengantin Adat Jawa
Dalam tradisi pernikahan Jawa, setiap bagian pakaian pengantin memiliki makna simbolis tersendiri.
1. Kebaya

Kebaya melambangkan kesederhanaan, kerendahan hati, dan keanggunan. Warna kebaya yang umum dipilih adalah warna putih, krem, atau putih susu. Warna tersebut melambangkan kemurnian, kesucian, dan ketulusan hati.
2. Kain Batik

Kain batik yang digunakan pada bagian bawah kebaya pengantin melambangkan kebesaran hati dan kekuatan batin.
3. Dodot

Dodot atau beskap pengantin pria melambangkan keperkasaan dan ketegasan hati. Dodot berwarna hitam yang dipadukan dengan kain batik bermotif tumbuhan. Warna hitam sendiri melambangkan keagungan.
4. Songket

Songket biasanya dipakai pada kain yang melingkar di pinggang pengantin pria. Songket melambangkan kemakmuran, kemuliaan, dan kepemimpinan. Warna yang umum digunakan untuk songket adalah emas atau kuning yang melambangkan kekayaan dan kemuliaan.
5. Kembang Sepatu

Kembang sepatu yang dipakai pada sepatu pengantin wanita melambangkan kecantikan dan kesempurnaan. Kembang dibuat dari berbagai jenis bahan, seperti kain, perak, emas, hingga berlian. Kembang sepatu menghiasi sepatu pengantin dan membuatnya semakin cantik dan berkilau.
Tradisi Pakaian Pengantin Adat Jawa
Setiap detail pada pakaian pengantin adat Jawa memiliki nilai tradisi yang penting. Berikut beberapa tradisinya:
1. Nyongkolan

Nyongkolan merupakan tradisi membetulkan ikatan kain pada tubuh pengantin wanita. Tradisi ini dilakukan setelah seserahan dan sebelum ijab qabul. Tindakan ini melambangkan pengantin wanita telah resmi diambil oleh pengantin laki-laki sebagai suaminya.
2. Siraman

Siraman adalah tradisi mandi bersama sebelum upacara pernikahan dimulai. Tradisi ini melambangkan pembersihan diri fisik dan spiritual bagi pengantin. Di dalam tradisi Jawa, siraman juga berfungsi sebagai doa dan permohonan keselamatan bagi pengantin dan keluarganya.
3. Nyantri

Nyantri adalah suatu tradisi ketika pengantin melakukan ritual bersembahyang pada hari sebelum pernikahan. Tujuan dari nyantri adalah untuk memohon keberhasilan pernikahan serta diberikan keberkahan oleh Tuhan.
4. Sungkeman

Sungkeman adalah tradisi saling meminta maaf dan meminta restu antara pengantin dengan orang tua masing-masing. Tradisi ini melambangkan adanya kesadaran akan pentingnya peran orang tua di dalam pernikahan.
5. Siraman Rohani

Siraman Rohani adalah tradisi yang dilaksanakan pada malam menjelang pernikahan. Tujuan dari tradisi ini adalah untuk menghilangkan rasa cemas dan menyambut pernikahan dengan hati yang tulus dan tenang.
Kesimpulan
Pakaian pengantin adat Jawa memiliki keunikan baik dari segi tampilan maupun artinya. Setiap bagian pakaian memiliki makna simbolis tersendiri. Begitu juga dengan tradisi-tradisi pernikahan yang dilaksanakan oleh suku Jawa. Semua tradisi tersebut memiliki nilai makna yang tinggi dan sarat dengan spiritualitas. Hal ini membuktikan bahwa adat Jawa merupakan kekayaan budaya yang sangat berharga dan layak untuk dilestarikan.
