Tampil Memukau di Hari Bahagia Anda dengan Baju Pengantin Terbaik

Budaya & Tradisi

Pengantin Dodotan Jawa: Sejarah, Makna, dan Kebiasaan dalam Pernikahan Adat Jawa

3 menit

Pengantin Dodotan Jawa: Sejarah, Makna, dan Kebiasaan dalam Pernikahan Adat Jawa

Pengenalan tentang Pengantin Dodotan Jawa

pengantin dodotan jawa

Di Indonesia, terdapat beragam adat dan budaya dalam pernikahan. Salah satunya adalah pernikahan adat Jawa yang memiliki keunikan tersendiri dalam pengantinannya. Pengantin dalam pernikahan adat Jawa memakai pakaian tradisional yang disebut dodotan. Dodotan adalah busana pengantin Jawa yang terdiri dari beberapa unsur yang melambangkan makna filosofis dan nilai-nilai dalam kehidupan.

Sejarah dan Makna Pengantin Dodotan Jawa

Dodotan atau dudutan berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya adalah kain besar. Kain besar tersebut digunakan oleh orang Jawa Kuno pada zaman dahulu untuk ditampilkan pada upacara penobatan raja.

Kemudian, pada perkembangan selanjutnya, dodotan digunakan oleh masyarakat Jawa untuk pakaian pengantin dalam pernikahan adat Jawa. Dodotan yang dipakai pengantin Jawa melambangkan kesucian, kebersihan, kerendahan hati, keramahtamahan, dan keharmonisan.

dodotan jawa

Unsur-Unsur dalam Pengantin Dodotan Jawa

Pakaian pengantin adat Jawa tidak hanya terdiri atas dodotan saja. Terdapat beberapa unsur dalam pengantin dodotan Jawa yang memiliki makna filosofis dan nilai-nilai dalam kehidupan. Berikut adalah beberapa unsur dalam pengantin dodotan Jawa:

1. Kawung dan Parang Rusak

Kawung dan Parang Rusak adalah unsur pola batik pada dodotan pengantin Jawa. Kawung melambangkan kesetiaan, sementara Parang Rusak melambangkan kerendahan hati. Pola batik pada dodotan pengantin Jawa adalah sebagai wujud penghormatan pada masa lalu dan upaya untuk melestarikan budaya.

kawung parang dodotan

2. Kembang Sepatu

Kembang Sepatu adalah hiasan pada sepatu pengantin dodotan Jawa. Kembang Sepatu melambangkan kemurnian hati, kebahagiaan, keharuman, dan kesuburan.

kembang sepatu

3. Beskap dan Blangkon

Beskap dan Blangkon adalah pakaian pengantin dodotan Jawa untuk pria. Beskap melambangkan kekuasaan dan keberanian, sementara Blangkon melambangkan kemandirian dan keberlangsungan hidup. Pada zaman dahulu, Blangkon dipakai oleh prajurit sebagai penanda kesetiaan pada raja.

beskap blangkon

Kebiasaan dalam Pernikahan Adat Jawa

Selain pengantin dodotan Jawa, terdapat kebiasaan lain dalam pernikahan adat Jawa yang memiliki makna filosofis dan nilai-nilai dalam kehidupan. Berikut adalah beberapa kebiasaan dalam pernikahan adat Jawa:

1. Siraman

Siraman adalah tradisi dalam pernikahan adat Jawa yang dilakukan pada malam sebelum akad nikah. Siraman dilakukan sebagai simbol membersihkan diri dan hubungan dengan Tuhan. Siraman dilakukan oleh keluarga dan kerabat dekat pengantin dengan cara membasuh kaki dan tangan pengantin.

siraman

2. Panggih

Panggih adalah acara pertemuan antara pengantin wanita dan pria pada saat akad nikah. Panggih dilakukan sebagai simbol persatuan dan kesatuan pasangan pengantin. Panggih dilakukan dengan pengantin duduk berdampingan di atas pelaminan sambil mengucapkan janji suci pernikahan.

panggih

3. Midodareni

Midodareni adalah tradisi dalam pernikahan adat Jawa yang dilakukan pada malam sebelum akad nikah atau pada malam finale. Midodareni dilakukan sebagai simbol persiapan menuju kehidupan baru sebagai pasangan suami istri. Midodareni dilakukan dengan acara tari-tarian dan musik oleh keluarga dan kerabat dekat pengantin.

midodareni

Kesimpulan

Pengantin dodotan Jawa merupakan bagian dari pernikahan adat Jawa yang memiliki makna filosofis dan nilai-nilai dalam kehidupan. Dodotan melambangkan kesucian, kebersihan, kerendahan hati, keramahtamahan, dan keharmonisan. Selain itu, terdapat kebiasaan lain dalam pernikahan adat Jawa yang memiliki makna filosofis, seperti Siraman, Panggih, dan Midodareni.

Back to top